Jangan diam, Mahasiswa..!

Posted by Ricky P. Ramadhan On 18:48 0 komentar



Hari ini, kita teringat lagi akan jiwa membara kita. Hari ini kita mengenang lagi moment kebangkitan dan reformasi bangsa ini. Hari dimana keruntuhan tangan-tangan besi dan tirani atas bangsa kita. Hari saat persatuan pemuda Indonesia mencapai puncaknya dan mengeluarkan energi besar ke seluruh pelosok negeri.

Hari Kebangkitan Nasional, telah membara sebelum kemerdekaan kita raih. Hari itu, menjadi pengingat bagi kita, bahwa jiwa kebebasan dan kesadaran atas kemerdekaan harus dimiliki segenap warga negara Indonesia. Bangsa ini tidak boleh diam saat penjajah masih terus duduk nyaman dalam tanah sewaan. Maka pemuda dan kaum terpelajar mendirikan perkumpulan dan perhimpunan. Saluran-saluran aspirasi pun mengalir deras dan pemikiran-pemikiran baru muncul menghangatkan suhu politik. Jalur baru perjuangan bangsa mulai ditempuh dengan cara Diplomasi. Tanpa tumpah darah dan tanpa senjata. Bertahun-tahun kemudian, tercapailah apa yang kita cita-citakan. Kemerdekaan menjadi milik kita.

Sudah cukup..? ternyata tidak.. setelah kemerdekaan, bangsa ini bingung menentukan arah. Akan seperti apa masa depan kita..? saya hanya bisa berperang. Itu saja. Dan kini berakhir. Harus apa saya..? begitu pikir mereka. Maka Pendidikan menjadi fokus utama untuk dapat membangun bangsa ini lebih baik. Lalu dasar-dasar negara, dasar politik dan kebangsaan tumbuh dan berkembang. Hingga muncul lagi musuh dari dalam bangsa sendiri. Soekarno pernah berkata “perjuanganku mudah karena melawan bangsa lain. Tapi perjuangan kalian sulit karena melawan bangsa sendiri”. Benar saja, PKI merajalela dan menyebabkan kekacauan dalam negeri. Singkat cerita, dengan bantuan satu tokoh baru dalam militer, maka pemberontakan tersebut hilang di permukaan. Adalah Jenderal Soeharto yang kemudian diberi mandat untuk melanjutkan perjuangan dan tiba pada era orde baru.

Masyarakat mengenai beliau sebagai pahlawan dan mampu membangun bangsa ini lebih baik dan lebih cepat. Tokoh ini pula yang disebut-sebut Bangsa ini sebagai Bapak Pembangunan Indonesia. Memang benar, dalam kepemimpinannya yang taktis dan otoriter, seluruh pekerjaan selesai dengan cepat. Namun masalah kemudian tiba. Kekuasaan yang terlampau lama, menyebabkan penyimpangan dan perubahan orinetasi politik menjadi genggaman kekuasaan tanpa batas. Korupsi tumbuh cepat, hutang menumpuk, inflasi parah dan masyarakat dibungkam. Bangsa ini seperti dijajah lagi oleh pemimpinnya sendiri.

Akhirnya jiwa pemuda lah (baca : Mahasiswa) yang mampu meruntuhkan itu semua. Pemuda lah yang mampu hadir terdepan dan bersama masyarakat berpegangan tangan memperbaiki ini semua. Dorongan dan aksi massa meluapkan energi yang besar terhadap dunia dan kestabilan politik di Indonesia. Hingga pada akhirnya tangan besi itu melepaskan diri dalam genggamannya atas bangsa ini.

14 tahun sudah sejak hari itu terjadi. Energi-energi besar itu telah hampir hilang pengaruhnya pada pemerintah. Energi itu terpecah menjadi pecahan-pecahan kecil yang hanya mampu menusuk kecil pada kaki tirani. Dimana energi besar itu..? ada pada diri kita untuk kita sadari. Bagaimana kita seharusnya..? seharusnya kita dapat bergerak dan berbuat banyak dalam masa emas ini. Tidak perlu jauh dalam tataran nasional dan berkoar banyak. Ketika titik-titik kecil energi kita berbaur, mari kita satukan agar efeknya lebih besar dapat menyinari kita. Ketika tidak cukup kuat, mari kita sama-sama dorong energi kita untuk dapat menghasilkan yang lebih besar. Jangan takut kawan, sekecil apapun tindakan kita, akan dapat membantu bangsa ini menjadi lebih baik. Sekecil apapun usaha kita, akan membuat tanah ini lebih nyaman untuk ditinggali. Sehingga hujan yang deras dan matahari yang menyengat itu akan melahirkan pelangi buat kita semua..

Mari Berkarya Nyata untuk Pendidikan

Posted by Ricky P. Ramadhan On 00:57 0 komentar



Kawan-kawan, Hari Pendidikan Nasional tahun 2012 sedang hangat-hangatnya dibicarakan. Sebuah seremonial dan peringatan atas dibangunnya fondasi pendidikan pada awal pergerakan Bangsa Indonesia. Dimanakah posisi kita..? bagaimana kita harus bersikap..?
Negara ini sedang mengalami banyak masalah. Pendidikan salahsatunya. Sayangnya, gaung perbaikan pendidikan tidak merata dan disadari banyak pihak. Sehingga tidak memberikan efek yang menyeluruh bagi seluruh rakyat Indonesia. Menilik dari perkembangannya, Pendidikan Indonesia bergerak maju menuju banyak sekali perubahan. Setidaknya pola pikir kita dari bangsa terjajah hingga bangsa yang progresif telah nyata. Banyak pula prestasi anak bangsa yang mendunia, seperti menjuarai barbagai Olimpiade Sains dan Robotika. Pergerakan kaum muda juga makin menunjukkan intelektualitasnya. Perkembangan Kurikulum dan sistem Pendidikan makin menuju ke arah yang baik.
Itu dia perkembangan Pendidikan menurut Perspektif saya. Namun diluar itu semua, kenapa masih ada saja anak putus sekolah..? kenapa masih ada anak jalanan..? kenapa masih banyak budaya mencontek..? inilah dia bangsa kita. Apakah telah terjadi anomali dan ironi dalam bangsa ini..? ketika terjadi keadaan yang sangat bertolak belakang dalam suatu keadaan dan suatu tempat. Di satu sisi banyak prestasi yang diraih putra-putra bangsa. Tapi di sisi lain banyak pula kecacatan dalam pendidikan kita.
Inilah dia hasil dari Pendidikan yang berorientasi pada hasil. Hasilnya memang baik dan mampu mengangkat martabat Bangsa ini. Namun prosesnya luput dari perhatian kita semua. Anak-anak bangsa seperti menjadi robot percobaan mekanisme pendidikan. Diberi bahan bakar untuk terus membangun bangsa, namun tidak diberi pandangan ke depan mengenai masa depan bangsa yang ada di pundak kita semua. Tidak ada sebuah proses panjang dan berkesinambungan. Semua bertolak pada hasil. Ujian Nasional salahsatunya. Siswa sangat terbebani ketika di akhir pendidikan menengahnya harus dihadapkan pada Ujian Nasional. Sedangkan dalam pengajaran sehari-hari (dalam proses), mereka tidak diberi pemahaman yang baik. Sehingga bingung di akhir.
Proses yang hilang inilah yang membuat bangsa kita tidak mempunyai karakter. Hingga menjadi plagiat dan bangga dengan budaya Negara lain. Tidak ditanamkan rasa memiliki terhadap Negara dan rasa cinta terhadap budaya. Sehingga budaya lain dianggapnya lebih bagus. Karakter yang hilang inilah yang membuat pemuda kita gampang dimasuki oleh budaya lain dan mudah menyebar. Sangat rentan. Apalagi dengan keadaan geografis kita yang terbuka dan pemikiran kita yang moderat.
Oke, cukup. Mari kita optimis. Pemuda harus selalu optimis dan memiliki terobosan. Pemuda harus bergerak dan aktif. Pemuda tidak menjadi oposisi tapi mengkritik yang membangun. Pemuda harus idealis dan berkarya. Diluar itu semua, masih banyak anak-anak bangsa yang perlu kita semua perjuangkan. Masih banyak pemuda lain yang peduli dan beroptimis dengan pendidikan ini. Keadaan Negara kita tidak seburuk yang dibayangkan kok. Asal kita optimis dan mau berkarya untuk dapat merubahnya. Jangan diam dan banyak mengeluarkan kritik yang menghancurkan kita. Kita jugalah yang berkewajiban merubah ini semua.
Indonesia butuh kita untuk terus berkarya..

berikut ini hasil Re-design logo Ikatan Mahasiswa Geografi Indonesia hasil keputusan Kongres ke XII di Padang.


file berformat CDR (CorelDraw) bisa di download disini. terima kasih.. Salam Geografi..!

Sedang dalam keadaan tidak baik

Posted by Ricky P. Ramadhan On 14:20 1 komentar


sesuai judul. begitulah keadaannya..
pusing, ceking, lemah dan bingung..
mana semangatku, dimana ia..?
mana cintaku..? yang selalu buat bersemangat.

aku dan hidupku sendiri.
masih banyak ruang untukmu..
tapi ia tidak datang

aku dan pikiranku
dalam diam dan senyum yang melayang
entah apa yang terpikir.

keadaan yang sangat buruk.
bisakah aku keluar dari keadaan ini..?

    Total Pageviews

    nyariArsip